batikjember

Jadi Pengusaha Modal Dengkul

Sudah lama sebenarnya saya memendam keinginan untuk berwirausaha, tapi belum menemukan ide dan kesempatan yang pas. Ada peluang bagus, modalnya tidak cukup. Bukan hanya modal uang, tapi juga modal waktu dan tenaga. Atau kalaupun semua modal ada, kurang sreg di hati jadi kurang passionate mengerjakannya.

Akhirnya peluang yang ditunggu-tunggu dan dicari-cari itu datang juga. Karena mengerjakan amanah dari kantor saya malah bertemu peluang usaha. Ceritanya, saya diminta untuk membantu mencari batik khas Jember untuk dijadikan seragam kantor. Dan setelah mengobrol lebih lanjut dengan ibu Iriane, pengrajin batik Jember itu, dan melakukan riset kecil-kecilan, akhirnya saya putuskan untuk meluncurkan BatikJember.com.

Kenapa akhirnya saya meluncurkan BatikJember.com? Pertama, ingin membuka lapangan kerja untuk banyak orang. Walau belum secara langsung saya membuka lapangan pekerjaan, saya berharap dengan membantu di sisi marketing via dunia online, omzet penjualan batik Jember akan meningkat yang artinya akan semakin banyak kesempatan kerja yang bisa dibuka untuk lebih banyak orang. Apalagi ibu Iriane memang memberdayakan para ibu rumah tangga di sekitar rumahnya dalam memproduksi batiknya.

Kedua, turut melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa. Looks cliches, tapi memang itu alasan sebenarnya. Batik yang sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia oleh UNESCO adalah kekayaan budaya yang luar biasa bangsa ini. Dan tentu sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia sendiri.

Ketiga, ga pengen cuma pinter ngecap doang. Mungkin sudah berpuluh kali saya presentasi tentang internet dan berbagai manfaatnya ke berbagai komunitas, kebetulan salah satu tugas saya di kantor adalah mengajar di Broadband Learning Center. Dan salah satu yang sering saya sampaikan, terutama ke komunitas UKM adalah manfaat internet untuk bisnis dan mengembangkan usaha. Hampir semua manfaat internet sudah saya coba, tapi poin untuk bisnis ini yang belum serius saya jalani. Jadi, BatikJember.com ini adalah bentuk amal dari ilmu, semoga barokah.

Dan… Insya Allah saya niatkan separuh keuntungan dari online shop BatikJember.com akan saya sumbangkan untuk beasiswa pendidikan anak-anak Jember dan sekitarnya. Ya… saya selalu percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah nasib seseorang, kunci kemajuan sebuah bangsa…

 

wordpress-logo-stacked-rgb

Makin Asyik Blogging Dengan WordPress 3.3

Salah satu rutinitas pagi saya adalah mengecek blog saya ini. Berharap mungkin ada yang berkomentar atau yang bertanya, agar segera bisa saya respon. Dan pagi ini saya menemukan kejutan baru, ternyata WordPress sudah mengeluarkan versi 3.3. Segera saja saya ikuti petunjuknya dan melakukan update WordPress blog saya ini.

Ada beberapa kemudahan yang ditambahkan di WordPress 3.3 ini, antara lain: kemudahan uploading file, perubahan desain dashboard, adanya pointer untuk penambahan fitur baru, dan beberapa tambahan juga pada content tools.

Dengan WordPress 3.3 ini upload media  menjadi lebih mudah karena sudah terintegrasi, tidak dibedakan antara gambar, video, atau suara, semua di upload dengan window  yang sama. Di samping itu, WordPress 3.3 juga sudah mengakomodasi tipe file RAR dan 7z untuk di upload.

Di versi terbaru ini pula, dashboard telah dilengkapi flyout menu sehingga lebih memudahkan lagi. Tampilan dashboard di iPad atau tablet juga sudah lebih baik karena dashboard  di desain untuk lebih responsif terhadapn variasi ukuran layar. Terdapat perubahan juga pada header yang sekarang diintegrasikan dengan admin bar, menjadi toolbar saja.

Kita pun menjadi lebih mudah memfungsikan fitur-fitur baru WordPress karena pada setiap fitur baru ada navigasi yang memberi petunjuk tentang kegunaan fitur baru tersebut, feels like the first time. 

WordPress saat ini juga sudah bisa melakukan import Tumblr sehingga format Tumblog bisa disesuaikan dengan format WordPress. Pada pengelolaan widgets, saat ini apabila kita berganti tema WordPress dan ingin kembali ke tema yang lama, kita tidak perlu mengatur ulang widgets karena secara otomatis komposisi widgets akan kembali pada pengaturan seperti sebelumnya.

Kurang lebih itu sih yang saya pahami dari WordPress terbaru ini. Yang pasti membuat semakin asyik blogging.


blogging-man

Menjaga Energi Nge-blog

Baru saya sadar, ternyata sudah hampir 3 minggu saya tidak posting tulisan baru. Sudah melanggar komitmen nih bahwa saya akan update blog setiap pekan. Benarlah pepatah itu, membangun lebih mudah daripada merawat. Meraih itu lebih mudah daripada mempertahankan.

Ketika awal memulai blog ini, semangat saya membara betul apalagi pakai domain nama sendiri, terasa narsisnya :D . Tapi seiring berjalannya waktu dan kesibukan, ada saja gangguan untuk konsisten menulis. Gangguan itu bisa berasal dari eksternal ataupun internal saya.

Bagi diri saya gangguan eksternal sebenarnya lebih mudah diatasi, tapi gangguan internal justru yang lebih sulit. Sebabnya, ada sifat perfeksionis dalam diri saya, perfeksionis dan significant tepatnya. Selalu ada dorongan dalam diri saya untuk melakukan atau mencetuskan hal-hal yang luar biasa dan harus sempurna hasilnya. Sifat ini mungkin baik, tapi belum tentu tepat dalam segala situasi.  Sebuah pekerjaan sederhana bisa selesai lebih lama kalau sifat perfeksionis dan significant saya ini sedang muncul. Dan ini juga kiranya yang menyebabkan saya jadi kurang konsisten menulis karena selalu ingin menghadirkan tulisan yang terlihat hebat :D .

Saya sadar, sifat ini kurang tepat kalau diterapkan di dunia blogging karena buktinya banyak orang-orang hebat yang justru menuliskan hal-hal kecil dan terlihat sepele di blog pribadinya. Menuliskan hal kecil dan sepele ternyata tidak mengurangi kehebatan mereka. Namun memang ada ciri tulisan orang-orang hebat, walau dari hal kecil dan sepele selalu ada hikmah atau pelajaran yang bisa kita petik dari sana.

Terdorong oleh kesadaran itu, lahirlah tulisan ini, “Menjaga Energi Nge-blog”. Saya rasa temanya tidak lagi baru, mungkin sudah ada ribuan orang yang menuliskan hal yang sama, tapi point of view  setiap orang tentu akan berbeda. Setiap point of view  akan memberi rasa yang berbeda, hikmah yang berbeda pula. Semoga saja pont of view  saya di tulisan ini ada manfaatnya untuk orang lain.


groovia

IPTV: Solusi Manajemen Hiburan di Rumah

Rumah kita bisa jadi sudah aman dari pencurian atau perampokan karena dilengkapi berbagai perangkat keamanan mulai dari pagar, alarm, teralis, dan mungkin membayar petugas keamanan 24 jam untuk menjaga rumah. Tapi bagaimana kita mengantisipasi maling yang “mencuri” kecerdasan anak-anak kita yang dengan bebas masuk rumah? Atau maling yang mencuri waktu kita yang berharga karena terpana melihat berbagai tayangan yang menarik mata?

Itulah yang dilakukan televisi. Televisi yang masih menjadi sarana hiburan utama di sebagian besar rumah tangga keluarga Indonesia telah “mencuri” tanpa kita sadari.

Dampaknya, sebagian keluarga yang menyadari dampak negatif televisi bahkan ada yang sampai memutuskan untuk tidak memiliki televisi di rumah walau sangat mampu untuk mengadakan sebuah televisi di rumah. Mereka memilih cara lain untuk menghadirkan hiburan di rumah. Pilihan itu tidak salah, namun masih juga tersedia cara lain untuk mengatur yang dilakukan televisi di rumah kita. Toh sebenarnya masih banyak manfaat yang bisa diambil dari televisi, bergantung acara apa yang kita konsumsi.

Saat ini telah ada teknologi IPTV (Internet Protocol Television) sebuah teknologi yang menghadirkan televisi dengan internet protocol. Dengan kehadiran IPTV, penonton diberikan kekuasaan lebih atas apa yang akan tayang di layar kaca mereka. Bahkan penonton bisa merekam atau me-rewind program-program bermutu yang ingin mereka tonton ulang. Atau bisa juga melakukan permintaan tayangan apa yang ingin mereka tonton lewat fasilitas video on demand atau TV on demand yang bisa menghadirkan kembali acara TV 48 jam terakhir. Fitur ini tentu bermanfaat sekali untuk manajemen waktu kita, TV tidak lagi mendikte aktifitas kita hanya karena tidak ingin kehilangan momen menonton tayangan favorit atau penting.

Perintis IPTV di Indonesia adalah Groovia TV dari TELKOM Group. Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini yang sejak 2009 mencanangkan T.I.M.E (Telecommunication, Information, Media, and Edutainment) sebagai porto folio bisnisnya telah meluncurkan Groovia TV pertengahan tahun ini. Karena IPTV membutuhkan dukungan infrastruktur MSAN (Multi-Service Acces Node) dan GPON (Gigabyte Passive Optical Network), saat ini Groovia TV baru bisa melayani kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Memang fasilitas Groovia TV  ini masih terbilang mahal. Dan sementara ini segmen pelanggannya tentu masih menengah ke atas. Biaya berlangganan dan pengadaan pesawat televisi yang memiliki spesifikasi yang cocok untuk IPTV tentu perlu alokasi anggaran ekstra dari anggaran rumah tangga. Tapi teknologi akan selalu menemukan skala ekonomisnya hingga semakin terjangkau ke lebih banyak orang. Semoga titik itu tidak akan lama tercapainya sehingga bisa lebih banyak lagi keluarga Indonesia yang bisa punya kuasa atas hiburan yang hadir di rumahnya dengan berbagai tayangan yang bermutu dan mendidik.


 

yunus-cover2

Tiga Huruf Yang Menentukan

Tergelitik oleh tulisan seorang teman di salah satu mailing list yang saya ikuti. Kebetulan milis ini adalah milis alumni kampus tempat saya kuliah sarjana dulu. Milis sedang ramai membahas kinerja beberapa alumni di beberapa instansi. Berbagai komentar dan opini begitu seru saling dilemparkan oleh para anggota milis. Ada yang bernada positif, ada yang negatif, ada yang berusaha menenangkan dan sebagainya. Bahkan pembahasan menjadi meluas mengomentari kinerja pak Dahlan Iskan yang baru saja diamanahi menjadi Menteri BUMN.

Dari sekian banyak posting yang saya baca, saya tertarik dengan tulisan salah seorang kakak kelas saya. Kira-kira begini kutipannya: “Akar permasalahannya sederhana, berawal dari niat. Rata-rata orang itu niatannya ‘menjadi‘ bukan ‘menjadikan‘.”

Setelah saya renungi, kalimat yang terlihat sederhana ini seungguhnya dalam maknanya. Hanya perbedaan tiga huruf “K”, “A”, dan “N” ternyata bisa membuat perbedaan yang sangat jauh.

Saya mencoba bercermin diri sendiri. Saya seorang pegawai disebuah perusahaan. Secara sadar atau tidak sadar umumnya keinginan pertama yang terbersit dalam hati saya adalah di kemudian hari saya ingin menjadi Supervisor, Manager, atau General Manager bahkan Direktur. Jarang saya berkeinginan menjadikan perusahaan tempat saya bekerja menjadi Best Company of The Year, Best Customer Care of The Year, Best Customer Satisfaction, dan prestasi lainnya misalnya. Atau misal berkeinginan untuk  menjadikan perusahaan saya lebih well managed, lebih efisien, lebih maju, lebih inovatif dan sebagainya. Dan saya pikir orang-orang seperti saya ini masih banyak jumlahnya.

Buktinya? Mudah, coba kita telaah orang-orang yang berhasil membuat perubahan atau perbaikan di lingkungannya, motivasinya pasti bicara tentang ‘menjadikan’. Banyak yang tidak peduli apakah kemudian dia akan mendapat penghargaan atau jabatan karena apa yang dilakukannya. Dan jumlah orang-orang seperti ini sedikit.

Misalnya saja seorang Muhammad Yunus yang merintis Grameen Bank di Bangladesh. Motivasinya menjadikan rakyat Bangladesh lebih sejahtera, dia tidak peduli apakah ia akan mendapatkan atau menjadi sesuatu dari pekerjaannya itu. Namun mata masyarakat dunia ternyata bisa melihat kecemerlangannya itu dan memberikan apresiasi salah satunya melalui Nobel Perdamaian pada tahun 2006.

Sebaliknya, kita lihat fenomena korupsi di negeri ini. Banyak masalah korupsi melibatkan pejabat karena diawali dari niat ingin ‘menjadi’ semata yang akhirnya mendorong untuk menempuh segala cara baik legal maupun ilegal untuk meraih keinginannya. Mereka tidak memikirkan apakah yang saya gunakan ini adalah hak saya atau orang lain, apakah merugikan banyak orang atau tidak, yang dipikirkannya adalah yang penting saya sukses ‘menjadi’.

Lantas apakah memiliki keinginan untuk ‘menjadi’ itu dilarang? Memiliki berbagai keinginan itu adalah fitrah seorang manusia, menghilangkannya sama sekali tentu bertentangan dengan fitrah.

Dan kembali saya teringat sebuah kalimat yang telah bergema sejak ratusan tahun yang lalu, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya untuk manusia lainnya.” 

Selamat berlomba menjadi manfaat, dengan semangat ‘menjadikan’ tidak semata semangat ‘menjadi’.